Malam hampir menunjukkan pukul 8. Aku dan ribuan orang lainnya yang memenuhi lapangan ini tidak memperdulikan hujan rintik-rintik yang mulai turun. Tapi malam ini tidak dingin. Membara.
Orang-orang semakin berdesakan. Hati semakin berdegup kencang. Di hadapan kami berdiri kokoh sebuah panggung besar. Panggung yang belum bernyawa, masih gelap gulita. Namun kami tahu sebentar lagi ada harapan yang akan menampakkan wujudnya di sana.
Nafas tertahan.
Saat yang ditunggu-tunggu pun datang.
Kupu-kupu digital menghidupkan layar besar di tengah panggung. Kupu-kupu ini menjelajah beberapa kota dan mengakhiri perjalanannya di telapak tangan seorang lelaki berparas indah. Lelaki ini tersadar, perlahan mengepalkan dan mengangkat tangan kanannya ke udara. Dan dalam sekejap melayangkan tinjunya dan memecahkan layar berkeping-keping.
Alunan piano terdengar lembut. Dihantam teriakan yang sudah tak tertahan.
望み亡くしたような湿った空へと
胸の奥に秘めた誓いを浮かべた
I let the vow hidden in my heart float up
To the damp sky, which looked as if it had lost hope
"Ibara no Namida"
Lelaki dalam layar itu muncul di atas panggung dalam wujud nyata. Berpendar menyilaukan dibawah sorotan cahaya lampu. Apa ini tipuan? Sosok yang selama ini hanya ada dalam kepingan CD, dalam layar-layar komputer dan televisi, hari ini bernyanyi di hadapanku. Bukan bayangan yang terbentuk dan lahir dari imajinasiku yang akhirnya memutuskan untuk keluar dan berdiri di sana.
Dia hidup. Dia ada. Dia nyata.
Moment of truth.
Sebuah penantian panjang.
Sebuah mimpi.
Mimpi yang menjadi kenyataan.




- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact