Rainy sunday afternoon. Seharusnya bisa jadi hari yang sempurna. Aku bisa saja minum coklat panas sambil baca buku yang baru saja kubeli tadi pagi menjelang siang sambil ngemil. Atau melakukan sesuatu yang lebih sederhana dan menyenangkan, tidur siang.
Tapi yang kulakukan sekarang bukan membaca, atau minum, atau ngemil, atau tidur siang. I work.
Ada tugas kantor yang harus kuselesaikan. Besok ada pembahasan anggaran dengan tim anggaran. Ada beberapa dokumen yang harus diserahkan ke tim, dan sebenarnya semua dokumen sudah selesai kusiapkan jumat kemarin. Beres.
Yang kukerjakan sekarang adalah bahan pegangan untuk si bos. Narasi. Aku harus membuat perbandingan anggaran tahun ini dan tahun lalu dan membuat penjelasan mengapa anggaran tahun ini berkurang atau bertambah dari tahun lalu. Misalnya biaya operasional listrik. Kalau tahun ini anggaran listrik lebih rendah dari tahun lalu, apa alasannya? Sedangkan tarif listrik terus meningkat. Apakah kami sudah menemukan metode baru untuk mengefisiensikan penggunaan listrik? Atau kami tahun depan akan memanfaatkan tenaga surya? Kalau anggarannya bertambah, apa alasannya? Apakah ada penambahan alat elektronik? Apakah ada penambahan daya listrik? Apakah untuk mengantisipasi tarif listrik yang jelas tidak pernah turun? Hal-hal seperti ini yang harus aku uraikan. Sounds simple? Ini baru listrik, belum lagi air, telepon, ATK, biaya perjalanan kantor, daaaaan lain sebagainya dengan total 42 kegiatan yang harus diuraikan rinciannya.
Whose job is this? Mine? This is not my jobdesk. Tugasku yang sebenarnya cuma menghimpun semua rincian anggaran berikut penjelasan kenapa begini kenapa begitu dari si empu-nya kegiatan/proyek. But it always ends up like this. They don't care. They never do. Cuma segelintir orang yang peduli. Setiap kali ada kabar rapat pembahasan, sepertinya cuma aku yang sport jantung. Was-was mengenai hari H-nya. Repot nyiapin ini itu-nya.
But I do it anyway.
Why?
Because I love my boss. I don't want to disappoint him. I want him to be well-prepared on D-day.
Well, mungkin bukan itu alasannya.
Mungkin karena aku ingin segala sesuatunya sempurna. Perfect. Jadi ketika ada yang minta ini itu, aku bisa bilang "I've done it". "Beres". This is about pride. Harga diri, bung! Halah.
Mmm.. mungkin bukan itu juga alasannya.
I'm not a perfectionist in general. Mungkin aku melakukan ini untuk bisa bebas dari rasa bersalah. Setidaknya besok aku bisa bilang "At least I did it", terlepas dari apa yang kubuat ini benar atau salah, memuaskan atau tidak.
Gak terasa hujannya sudah berhenti. Sebaiknya aku segera mulai bekerja.
WHAAATTT??? Udah jam 3??
Sh*t. What the hell am I doing? I'd better get back to work now or I'll end up doing nothing at all!


No comments:
Post a Comment